Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryNov 12, '07 11:28 PM
for everyone

Oleh: M. Thalib Bonto

            Membahas gerakan dakwah di anak benua India, hampir tidak pernah ada habisnya. Anak benua ini begitu kaya dengan pergerakan, mulai dari gerakan sempalan yang paling aneh hingga yang mengikut akidah ahlussunnah wal jamaah. Salah satu pergerakan yang cukup di perhitungkan keberadaannya di dunia Islam adalah Jamaah Tabligh ( JT ) yang memiliki pengikut cukup banyak di berbagai belahan dunia. Keberadaannya telah memberikan warna baru dalam dakwah dan pengaruh yang cukup luas di tengah-tengah masyarakat.   

 

Sejarah Lahirnya Gerakan Tabligh

            Masuknya Inggris ke benua India tidak hanya bertujuan untuk menjajah negeri ini, namun lebih dari pada itu berbagai misi ikut serta bersama yang telah mereka persiapkan untuk jajahan mereka.  Salah satu misi tersebut penyebaran kristenisasi untuk orang-orang India serta menjauhkan kaum muslimin dari agamanya.     

Disisi lain kondisi ummat Islam yang jauh dari ajaran Islam serta semangat juang yang lemah mengakibatkan kosongnya masjid di hampir semua tempat. Ummat Islam sudah tidak akrab lagi dengan syiar-syiar keIslaman, kebanggaan beragama telah hilang dari hati mereka, kebaikan telah tercemari dengan keburukan, ajaran ajaran Islam telah tercampur aduk dengan bid’ah, ummat Islam dalam keterpurukan dengan dekadensi moral, hingga hampir-hampir mereka sudah tidak mengenal agamanya. Ummat Islam sedang kelaparan ruhiyah, hati mereka kering kerontang  dari siraman hidayah.

Kondisi yang demikian telah melahirkan sosok seperti syeikh Muhammad Ilyas yang risau akan keberadaan ummat yang makin hari makin tidak menentu arah mereka melangkah. Kemana ia berjalan melihat saudaranya seiman dalam kondisi seperti itu membuat sedih, pikiran tentang keadaan ummat Islam selalu terlintas di benaknya. Di suatu musim haji syeikh ilyas berangkat  ke Saudi untuk menunaikan ibadah haji, selama beliau berada di Saudi. Hati dan pikirannya masih saja risau dan sedih. Di Saudi ia gunakan kesempatan tersebut untuk bertemu dengan beberapa tokoh ummat Islam dan membicarakan kerisauannya kepada mereka, berbagai masukan dari para jamaah dan tokoh-tokoh yang ia temui untuk memulai perbaikan masyarakat. Ketika ia sampai di kota Madinah Al-Munawwarah ia tidur di masjid Nabawi selama tiga hari. Ia gunakan waktunya untuk selalu memohon kepada Allah agar di berikan jalan terbaik untuk memperbaiki keadaan ummat Islam.

            Sekembali dari tanah suci mulailah ia merenungkan jalan apa yang paling baik untuk mengajak ummat ini kembali ke agamanya. Munculnya gagasan untuk keluar di jalan Allah setelah merenungi makna ayat dalam surah Ali Imran ayat 104 dan 110, yang artinya :

Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran, merekalah orang orang yang beruntung”

“Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, memerintahkan yang makruf dan mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli klitab beriman, tentulah itu lebih baik dari mereka, diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan merek aadalah orang-orang fasik.” 

            Sampai akhirnya ia melihat bahwa dakwah ini tidak akan dapat memberikan perubahan yang cukup cepat dan signifikan tanpa ada segolongan ummat yang siap untuk berjuang secara ikhlas dan berkorban dengan apa yang mereka miliki untuk keluar berdakwah dalam rangka mengajak ummat Islam kembali mengenal agamanya.

Berawal dari pemikiran inilah akhirnya mulai dari Saharnapur, syeikh Muhammad Ilyas mengumpulkan beberapa orang dari daerah ini untuk keluar keliling dari satu masjid ke masjid yang lain dan dari satu kampung ke kampung lain mengajak masyarakat setempat masuk masjid kemudian mengajarakan masyarakat untuk mengenal Islam sedikit demi sedikit.

 

Pendiri

            Gerakan ini merupakan hasil ijtihad salah seorang ulama di benua India yang bernama Syeikh Muhammad Ilyas al Kandahlawi (1885-1944) yang di lahirkan di desa Kandahlah sebuah desa di Saharnapur, India. Ia lahir di tengah-tengah keluarga yang sangat kental dengan agama dan keilmuan. Ayahnya seorang sufi yang zahid, hidupnya dipenuhi kesibukan dengan mengajar Al Quran di desanya. Beliau telah menghafal seluruh al-Quran sejak masih kecil. Setelah menyelesaikan hafalan al-Quran di desanya, ia memulai mengaji kitab kepada kakak kandungnya sendiri bernama Syeikh Muhammad Yahya. Lalu ia melanjutkan pendidikannya ke kota Saharnapur. Dari sana kemudian ia pindah dari satu madrasah kemadrasah yang lain hingga akhirnya beliau masuk ke madrasah Deoband, sebuah madrasah terbesar bagi para pengikut madzhab Hanafi di anak benua India.

Di madrasah Deoband ia bertalaqqi hadits Jami’ Shahih Tirmidzi dan Shahih Bukhari, dengan seorang syeikh yang benama Mahmud Hasan. Setelah menyelesaikan talaqqi dengan syeikhnya ia kembali kekampung halamannya dan mendalami kutubussittah di bawah bimbingan kakaknya Syeikh Muhammad Yahya.  

 

Gagasan Jama'ah

            Mereka memiliki gagasan yang sangat sederhana, namun sangat penting bagi kehidupan ummat Islam, yaitu memindahkan kehidupan agama ke dalam masjid untuk beberapa hari dan kemudian membawa kehidupan tersebut keluar dalam kehidupan nyata. Pencetus gerakan ini, beranggapan bahwa agama ini tidak berhenti pada kehidupan dan keshalehan individu atau pada wacana saja, namun lebih dari itu agama ini lebih menekankan pada penyadaran manusia untuk mengamalkan ilmu yang mereka dapatkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Dalam menjalani dakwah ini Syeikh Muhammad Ilyas menggariskan enam prinsip yang menjadi prioritas dalam berdakwah dan mesti diamalkan bagi Jamaah yang sedang keluar (Khuruj). Enam prinsip tersebut ;

1.   Kalimat thayyibah, Menurut Maulana Ilyas yang dimaksud dengan kalimat thayyibah disini adalah Laailaahaillallah Muhammad Rasulullah. Kalimat ini selalu diucapkan namun tidak berhenti pada pengucapannya saja, tapi lebih dari itu memahami apa arti kalimat yang di ucapkan serta memahami maksud yang terkandung di dalamnnya. Di dalam pengucapannya orang akan mendapat pahala dan terhindarkan dari menyekutukan Allah. Dalam penyampaian dakwah syeikh kurang sekali menyentuh permasalahan syirik tapi lebih menekankan pemahaman syahadatain dan keutamaan berdakwah kepada masyarakat. Namun dilain pihak ia juga tidak melayani permintaan dari beberapa orang untuk di berikan azimat oleh Syeikh.   

2.   Menegakkan shalat, menegakkan shalat adalah hal yang sangat fundamental dalam kehidupan seseorang, kata syeikh keutamaan shalat terlalu banyak jika hendak di sebutkan satu persatu. Kemudian lanjutnya, saking pentingnya shalat ini maka ia menjadi prioritas kedua setelah syahadat. Tidak heran syeikh Muhammad Ilyas begitu menekankan masalah shalat karena berkaitan erat dengan kondisi di zaman itu dimana ummat Islam telah lupa dengan keIslaman mereka apalag kewajiban yang harus mereka kerjakan.     

3.   Ilmu dan dzikir, yang di maksud dengan dengan ilmu ialah ilmu yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wa sallam atau apa saja yang dapat mendekatkan manusia kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA. Maka untuk memahami kewajiban yang di perintahkan oleh Allah salah satunya mengkaji kitab Tabligh Nisab karya Muhammad Zakariya al-Kandahlawi yang menulis tentang beberapa keutamamaan dakwah, shalat, haji, zakat, membaca al Quran, shalawat dan kisah-kisah para sahabat Rasul. Adapun yang di maksudkan dengan dzikir, kapan dan dimana saja kita harus tetap mengingat Allah. Bahkan bagi Syeikh Ilyas melakukan sesuatu dalam rangka mencari keridahaan Allah termasuk dzikir.

4.   Ikramul muslimin (memuliakan kaum muslimin), menghargai orang-orang Islam adalah salah satu hal penting yang di tekakankan oleh Syeikh Ilyas, karena dengan memuliakan orang maka kesulitan yang  kita temui dengan cepat akan mendapat jalan keluar.

5.   Ikhlas, amalan atau perbuatan kita hendaknya senantiasa dibangun diatas pondasi keikhlasan karena tanpa itu akan mengakibatkan hilangnya pahala amalan kita. Semua amalan kita hanya di peruntukkan untuk menggapai ridha Allah semata, karena jika beramal diiringi dengan keinginan duniawi maka tidak ada bedanya dengan orang-orang munafik. 

6.   Khuruj fisabilillah, mengerahkan daya upaya untuk mengajak orang pada kebaikan. Di perlukan semangat berkorban untuk mengusung dakwah ini. Bagi jamaah bahwa tujuan Nabi SALALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM diutus ke dunia untuk mengajak manusia pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, para sahabat sangat menyadari akan hal ini, maka tidak heran menurut salah seorang ulama Tabligh dalam ceramahnya bahwa puluhan ribu shahabat nabi yang hidup dan berjuang bersama beliau ternyata meninggal jauh dari kota Madinah karena mereka telah keluar untuk berdakwah kepada manusia. Karena itu kita sebagai ummat Islam sangat dianjurkan untuk keluar berdakwah dan menjadi tanggung jawab kita untuk mengajak manusia agar keluar berdakwah di jalan Allah. 

            Ke enam prinsip ini senantiasa mereka ulangi dalam majlis-majlis yang mereka lakukan ketika sedang keluar khuruj. Namun dari beberepa syeikh di Rewind megatakan bahwa ke enam prinsip yang ada dalam jamaah bukanlah prinsip final, “kami sadar bahwa ajaran Islam begitu luas. Namun kita dalam berdakwah bagaikan sedang belajar pada tingkat tertentu yang memiliki kurikulum di setiap tingkatan. Untuk kondisi seperti yang kita lihat sekarang, enam prinsip tadi menjadi prioritas dakwah kami. Namun kami tidak berhenti sampai disini.”

Besar kemungkinan Maulana Ilyas memulai gerakan dakwah ini dengan menetapkan enam hal sebagai prinsip karena melihat kondisi zamannya. Dimana ke enam prinsip tadi sangat lemah ditengah-tengah masyarakat, hingga beliau menjadikannya sebagai prioritas.    

 

Washilah Da’wah JT

<!--[if !supportLists]-->1.       <!--[endif]-->Nasehat.

<!--[if !supportLists]-->2.      <!--[endif]-->Khuruj  

 

Jama'ah Tabligh dan Politik

            Para ulama yang ikut bergabung dengan jamaah tabligh memberikan argument kenapa mereka tidak terjun ke gelanggang politik secara langsung. Sebab terjun ke gelanggang politik secara langsung akan membuka peluang kepada ummat Islam untuk berpecah belah lebih jauh. Karena sesungguhnya dalam berpolitik berbagai kepentingan nafsu manusia ikut serta hingga tidak kondusif dalam menjalankan dakwah. Sementara sasaran dakwah tabligh ingin menyatukan ummat agar bersama-sama berada dalam satu atmosfir untuk mengajak manusia kepada kebaikan. Jika tidak perbedaan dalam memandang sesuatu akan menyebabkan berbedanya pandangan dalam dakwah. “Bagi ka mi,” kata Muhammad Muslihuddin, salah seorang tokoh tabligh di Indonesia dalam wawancaranya dengan Suara Hidayatullah, “kami tetap berpolitik, tapi politik kita cara Nabi. Bukan politik yang anda lihat sekarang ini. Politik nabi adalah bagaimana menyelamatkan seluruh ummat manusia darai neraka jahannam. Bahagia dan selamat di dunia akhirat. Bukan politik yang mementingkan pribadi ataupun golongan.”    

Bahkan sering kali dari beberapa anggota tabligh mengatakan, perpolitikan nasional akan menjadi baik jika para politikus bergabung dengan jamaah, karena dengan ikut sertanya mereka akan menyadarkan diri mereka sebagai hamba dan mendapat pencerahan hati. Kalau mereka semua sudah bergabung bersama jamaah ini maka secara otomatis kehidupan mereka juga akan berubah.

Wallohu a’lam bis showab.


Add a Comment